 |
|
Participation in Rebuilding Aceh: Shell Donates Funds to the UN World Food Programme and Solar Systems to Syiah Kuala University (Indonesian) |
| 19/12/2006 |
 |
Partisipasi Pembangunan Kembali Aceh: Shell Menyumbangkan Dana kepada UN World Food Programme serta Perangkat Sistem Tenaga Surya kepada Universitas Syiah Kuala
|
|
Dalam rangka memperingati terjadinya tsunami yang dahsyat pada dua tahun silam, Shell Companies in Indonesia mengumumkan sumbangan dana kepada United Nations World Food Programme (WFP) dan perangkat sistem tenaga surya rumah (solar home system) Shell kepada Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh. Bob Moran, Country Chairman and President Director for Shell Companies in Indonesia, mengatakan, “Shell berkomitmen untuk membantu membangun kembali Aceh melalui kontribusi dana kepada WFP untuk proyek yang sedang berlangsung serta perangkat dan pelatihan sistem tenaga surya kepada perguruan tinggi. Hal ini merupakan bagian dari usaha kami untuk membantu membangun kembali kehidupan masyarakat yang telah mengalami bencana alam yang terburuk dalam sejarah.” UN WFP Shipping Service telah memberikan dukungan penting bagi komunitas-komunitas yang mengalami bencana tsunami di Indonesia. Walaupun kemajuan yang tercapai sudah cukup baik, namun lebih dari 70.000 rumah masih belum terbangun kembali. Shell Companies in Indonesia telah menyumbangkan dana sebesar USD100,000 untuk logistik dan transportasi dalam mendukung program tersebut. "The World Food Programme dengan gembira menerima kontribusi dari Shell yang akan membantu mendanai kesinambungan operasional WFP Shipping Service untuk memulihkan dan merekonstruksi komunitas yang terimbas oleh tsunami di Aceh dan Nias,” ujar Mohamed Saleheen, Representative dan Country Director untuk WFP Indonesia. “WFP Shipping Service telah memainkan peran yang penting dalam membangun kembali Aceh serta pemulihan ekonomi lokalnya.” Pada saat yang sama, Shell juga menyumbangkan dua buah sistem tenaga surya rumah kepada Fakultas Teknik Mesin, Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh untuk digunakan sebagai pembantu pelatihan untuk mahasiswa. Tujuan dari proyek ini adalah untuk menciptakan pemahaman mengenai teknologi photovoltaic (teknologi solar yang membangkitkan listrik) di kalangan mahasiswa. Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng, Pembantu Rekor untuk Urusan Akademis di Universitas Syiah Kuala mengatakan, “Pasca tsunami, penggunaan tenaga yang dapat diperbaharui seperti tenaga surya adalah pilihan yang terbaik bagi Aceh karena terletak di kawasan pinggiran pantai yang banyak sinar matahari. Sumber tenaga surya tersedia dalam jumlah banyak dari lokal dan bebas emisi. Sistem ini juga merupakan pilihan yang paling logis karena mudah dipasang dan merupakan sebuah sistem individual sehingga tidak memerlukan studi pelaksanaan untuk mengimplementasikannya. Pada saat ini, lebih dari 10,000 sistem tenaga surya telah dipasang dan digunakan di Aceh untuk memenuhi kebutuhan listrik. Dengan sumbangan ini, mahasiswa kami akan dapat memahami teknologi yang diperlukan untuk sebuah sistem tenaga surya.”
|
|
Tentang Royal Dutch Shell |
 |
Shell beroperasi di 140 negara dan teritori dan memiliki lebih dari 109.000 karyawan, dan di dunia Shell lebih dikenal masyarakat untuk produk pelumasnya yang berkualitas tinggi, SPBU-nya serta pengeksplorasian dan produksi minyak dan gas di darat maupun lepas pantai. Shell juga berkecimpung di bidang yang luas dalam solusi energi kepada pelanggan, termasuk transportasi dan perdagangan minyak dan gas, pemasaran gas bumi, produksi dan penjualan bahan bakar untuk kapal dan pesawat, pembangkit tenaga listrik dan penyediaan saran bagi efisiensi energi. Shell juga memproduksi dan menjual blok bangunan petrokimia kepada pelanggan industrial secara global dan berinvestasi membuat sumber energi yang dapat diperbaharui serta karbon rendah yang kompetitif untuk kebutuhan skala besar. Shell adalah mitra teknikal resmi untuk tim Ferrari Formula One dan tim Ducati MotoGP dan Superbike untuk bensin dan pelumas. Untuk informasi lebih lanjut, harap kunjungi situs kami: www.shell.com/indonesia
|
|
Mengenai World Food Programme |
 |
Pada tanggal 26 December 2004, tsunami yang paling mematikan dalam sejarah telah menghilangkan nyawa 200,000 orang. Jalanan, sekolah, klinik kesehatan dan ratusan ribu rumah di kawasan pinggir pantai sekitar Samudera Hindia hancur dalam hitungan jam. Atas permintaan United Nations Office of the Recovery Coordinator (UNORC) dan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh (BRR), maka United Nations World Food Programme (WFP) Shipping Service dibentuk pada bulan November 2005 untuk mendukung rekonstruksi Aceh dan Nias. Dana Multi Donor atau Multi Donor Fund (MDF) telah memberikan dana awal sebesar USD 24.7juta yang digunakan untuk membeli alat-alat, mobil operasional dan lain sebagainya, serta juga biaya operasional selama delapan bulan untuk pelayanan kargo humanitarian. Beberapa kegiatan Shipping Service termasuk: - Transportasi laut bagi UN dan humanitarian NGO serta bahan-bahan rekonstruksi untuk komunitas yang terimbas tsunami, dengan menggunakan pesawat pendarat dan kapal konvensional.
- Memberikan koordinasi logistik, port captains, konsolidasi muatan, penanganan bahan-bahan pelayanan peralatan yang penting, untuk rekonstruksi Aceh dan Nias.
- Memberikan kontribusi untuk kesinambungan hidup komunitas yang terimbas di sepanjang pinggir pantai di Aceh, Nias dan Semeulue dengan mentransportasikan bahan-bahan bangunan yang diperlukan masyarakat.
- Membangun tempat landasan sementara serta memperbaiki titik-titik akses pinggir laut untuk melayani lebih dari 30 lokasi di Aceh dan pulau sekitarnya, dimana operator komersil sebelumnya tidak dapat mengakses, atau tidak mau melayani.
- Telah mengantar, sampai saat ini, lebih dari 93,396 metrik ton (244,860 meter kubik) kargo.
- Melayani lebih dari 80 organisasi: perwakilan UN, NGO dan perwakilan pemerintah Indonesia.
WFP Shipping Service terus menjalankan rencananya unuk menasionalisasikan tenaga kerjanya, membangun kapasitas di pelabuhan dan berminat untuk mengalihtangankan rute-rutenya ke badan komersil. Pada saat pemberhentian seluruh program nanti, semua asset bergerak dan tidak bergerak (kecuali telekomunikasi dan alat-alat teknologi informasi) akan dipindahtangankan ke pemerintah lokal pada waktu yang akan ditentukan dengan konsultasi kepada BRR.
|
|
Untuk informasi lebih lanjut, harap hubungi: Shell Companies in Indonesia Fathia Syarif Manager, Corporate Communications Tel: +62 21 7883 8838 Fax: +62 21 7884 9676 Email: fathia.syarif@shell.com
|
|
|
|
|
 |
|
|